• Home
  • Berita
  • Universitas IGM Siap Berperan Lakukan Pemetaan Data Base Permasalahan Kota Kumuh

Berita UIGM

Universitas IGM Siap Berperan Lakukan Pemetaan Data Base Permasalahan Kota Kumuh


Senin, 11 November 2019



Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) Palembang ikut berperan dalam proses pemetaan, perencanaan serta penanggulangan pengentasan Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang digagas oleh Pemprov Sumsel dan Pemkot Palembang.Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Dr Sumi Amariena Hamim, ST., MT., IPM., ASEAN Eng menegaskan, UIGM merupakan salah satu perguruan tinggi yang mempunyai peranan penting untuk bersama sama menangani masalah kota Palembang.

Terlebih saat ini, UIGM sudah bekerjasama dengan Universitas Tenaga Malaysia dan perguruan tinggi lainnya. "Kita melakukan penyiapan sistem informasi kumuh di Kota Palembang yang diawali dengan pemutakhiran data base yang tergeospasial," katanya dalam Lokakarya Kota tanpa kumuh (Kotaku) di Hotel Santika Palembang, Kamis (7/11/2019).
Ia juga menyebut jika UIGM juga memiliki beberapa fakultas prodi yang sesuai dengan program KOTAKU ini, mulai dari perencanaan wilayah kota, program survey dan pemetaan, arsitektur dan teknik sipil. "Jadi UIGM sangat dapat mendukung dari program KOTAKU. Bisa dilakukan pemetaan secara detil untuk memudahkan perencanaan dan penangangan kota kumuh di Sumsel," paparnya.

Menurutnya, mahasiswa UIGM sudah lama terlibat dalam hal ini sejak 2012 mulai dari PNPM mandiri. Dosen dan mahasiswa dilibatkan penataan lingkungan berbasis komunitas.Sementara, Tim Leader Operasi Consultant 4 KemenPUPR, Khoironi mengatakan, berdasarkan data tahun 2016, total wilayah kumuh di Sumsel yakni sebanyak 1.887 hektare. Namun, seiring adanya program Kotaku maka wilayah kumuh menjadi 500 hektar lebih pada tahun 2019. Artinya, 1.313 hektare wilayah kumuh di Sumsel sudah mampu teratasi melalui program tersebut

"Ada tujuh kabupaten yang menjadi prioritas di Sumsel yaitu Palembang, Pagaralam, Prabumulih, Lubuk Linggau, OKI, OKU, dan Muara Enim," katanya.Wilayah yang menjadi prioritas ini dipilih berdasarkan indikator seperti kondisi jalan di lingkungan, penyediaan air minum, drainase lingkungan, pengelolaan limbah, pengelolaan sampah dan proteksi kebakaran dan ruang terbuka hijau/publik dan drainase lingkungan dan perumajan tidak layak huni.
Jika nantinya tidak memenuhi standar maka akan dimasukkan ke dalam kawasan kumuh sehingga akan dilakukan perbaikan. Dirinya berharap dengan program ini maka dapat mengentaskan wilayah kumuh di Sumsel. (andhiko ta)



Tinggalkan Komentar:


Berita Lainnya


Galeri